Tutut sebagai hama pertanian, ternyata berpeluang bisnis yang
menggiurkan. Olahan pakan ternak hingga aneka kuliner yang mengundang selera
makan jadi pilihan. .
Apakah keong sawah (tutut) atau keong emas dapat
menawarkan keuntungan? Tentu saja bisa. Salah satunya adalah dengan mengubahnya
sebagai pakan ikan atau ternak, bahkan dengan kreatifitas, hewan air tawar ini
yang dikenal juga sebagai bekicot dapat diolah menjadi pelbagai kuliner yang
menggiurkan.
Keong emas menjadi hewan yang mengganggu tanaman sawah
termasuk merusak padi, penyebaran yang sangat cepat tentu saja mengganggu
produksi pertanian. Keong ini memang memiliki kemampuan reproduksi yang luar
biasa.
Seiring perjalanan waktu, tinggi produktifitas keong mas
alias tutut memaksa beberapa orang berkreatifitas mengubahnya menjadi kuliner
yang tak kalah mengundang selera. Bahkan banyak penjaja makanan yang menawarkan
menu masakan berbahan dasar dari siput darat ini.
Tengok saja para pelaku usaha yang menyuplai keong sawah
dan keong emas yang merasa kewalahan karena permintaan masyarakat mulai
membludak. Ditambah anggapan bila tutut dapat membantu mengobati sakit
kuning/liver, sakit maag dan sebagai penambah nafsu makan.
Hewan ini bisa dimasak menjadi beraneka resep makanan
seperti sate, bumbu gule, sup keong, dan lainnya. Bahkan kita dapat mencoba
melakukan diversifikasi menu untuk diolah lebih lanjut dalam bentuk bakso dan
kerupuk.
Maka tak salah bila budidaya keong sawah dan keong emas
sangat menjanjikan. Pasalnya selain teknik budidayanya mudah, murah
investasinya dan juga cepat merasakan hasil panen.
Keong mas dapat juga dijadikan tepung, setelah direbus,
dikeringkan dan digiling terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan dedak padi
dan menir dengan perbandingan masing-masing 3,4 persen, 73,3 persen, dan 23,3
persen.
Penggunaan keong mas sebagai makanan itik sebagai sumber
protein hewani telah dilakukan sejak tahun 1985. Akhir-akhir ini banyak wilayah
padi dan wilayah ternak itik seperti halnya di daerah Banten, Jawa Tengah, Riau,
dan beberapa daerah di Sulawesi dan Kalimantan telah memanfaatkan keong mas ini
sebagai sumber pakan itik.
Pemberikan tepung keong mas pada peternakan ayam broiler
juga telah dilakukan sejak medio 1996. Tepung tubuh dan cangkang keong mas
memberikan nilai pertumbuhan yang cukup baik bagi peternakan ayam.
Hal yang cukup mengejutkan bahwa penggunaan tepung yang
berasal dari cangkang keong mas juga memberikan nilai pertumbuhan yang bagus.
Selain dalam bentuk tepung, silase daging keong mas juga telah terbukti menjadi
sumber pakan ternak bagi ruminansia dan ayam buras.
Pakan yang berbasis protein keong mas pernah diujicobakan
pada peternakan burung puyuh (Coturnix coturnix) dan memberikan pertumbuhan
yang baik.
Keong mas yang dipotong-potong kemudian ditaburkan pada
kolam ikan patin juga telah dilakukan oleh para petani di Kabupaten Bengkalis
yang memberikan hasil yang cukup baik bagi pertumbuhan ikan tersebut.
Pada budi daya ikan nila (Orochromis niloticus), komposisi
50% tepung ikan dan 50% telung keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup
baik, dengan nilai konversi pakan yang rendah.
Di Medan, pakan ikan mas dibuat ransumnya dari keong mas.
Dalam pembuatan pakan ikan mas, dapat diperoleh sekitar 170 kg tepung keong mas
per minggu. Pada pemeliharaan ikan gabus (Chana striata) yang diberi pakan
keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup baik. Selain itu, pakan yang dibuat
dari keong mas juga telah dilakukan pada pemeliharaan ikan sidat.
Penggunaan keong mas untuk pakan Krustase telah dibuktikan
pada udang dan kepiting. Pada budi daya udang windu, penggunaan pakan keong mas
sudah dilakukan pula sebagai pakan lobster air tawar oleh beberapa petani yang
membudi daya lobster. So keong memang menawarkan peluang bisnis yang
menggiurkan.
*Sumber: dari berbagai sumber